Tampilkan postingan dengan label Please Read. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Please Read. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2012

my own status on facebook


Sekolah favourite/unggulan/mahal tidak menjamin seorang anak pasti pintar apabila di rumah ketika si anak butuh ketenangan untuk belajar, tapi papa dan mama justru rajin bertengkar. Anak-anak tidak akan pernah bisa fokus ataupun konsentrasi untuk belajar karena mereka sudah stres lebih dulu mendengar keributan orang tuanya. (published on facebook July 31, 2011)

Maka itu, bagi para orang tua yang tidak mampu menyekolahkan anaknya di sekolah favourite, jangan kecewa dulu. Alkitab mengajarkan bahwa sekolah paling baik adalah di rumah dan guru terbaik adalah papa dan mama. Karena dari mereka anak-anak bisa belajara segala hal tentang kehidupan yang tidak semuanya diajarkan di sekolah. Ada 4 tempat yang Tuhan tetapkan untuk kita bisa mengajar anak-anak. (published on facebook August 1, 2011)

Sering saya mendengar banyak orang tua yang mengajar anaknya dengan kalimat “harus berapa kali papa ngomong, kamu itu harus…!!.” Wahai para orang tua, Alkitab mengajarakan bahwa mendidik anak itu tidak cukup berapa kali, tapi harus berulang-berulang. Karena semua manusia itu awalnya bodoh, belum tahu apa-apa, maka itu perlu di ajar secara terus-menerus. Berikut ini ke 4 tempat untuk mengajar anak. (published on facebook August 2, 2011)

Tempat pertama adalah di rumah, anak-anak bisa duduk diam dirumah itu maksimal sampai usia mereka 12 tahun, lewat usia itu mereka sudah masuk dunia baru, dunia remaja. Dimana mereka mulai mencari tahu segala sesuatu dari luar. Orang tua sering terlambat mengetahui hal ini dan baru sadar ketika si anak mulai pulang malam. Maka itu manfaatkan waktu pertumbuhan 0-12 tahun di rumah untuk mengajar, memberitahu dan menerangkan hal-hal yang baik kepada anak. (published on facebook August 3, 2011)

Tempat kedua adalah di perjalanan. Biasanya anak-anak kalau sudah 1-2 minggu tidak diajak jalan-jalan, mereka pasti akan minta untuk di ajak keluar. Kalau sudah diluar, mereka pasti akan bertanya banyak hal tentang apapaun yang mereka lihat. Banyak orang tua yang entah bodoh atau memang tidak mengerti, mereka sering bilang “kamu ini, kecil-kecil sudah banyak Tanya, cerewet!” hanya untuk menutupi kebodohannya atau memang malas untuk menjawab. Gunakanlah kesempatan dalam perjalanan untuk menjelaskan tentang dunia kepada anak-anak. (published on facebook August 4, 2011)

His Calling


Saya bukan orang yang mengenal Tuhan sedari kecil. Latar belakang rohani keluarga saya adalah Budha, jadi saya belajar dan beribadah menurut ajaran agama Budha. Usia 19 tahun saya belajar masuk gereja setelah diundang oleh seorang teman baik saya dimana kami selalu bersama-sama ketika masih duduk di bangku sekolah sejak taman kanak-kanak hingga lulus SMU. Tapi entah kenapa setelah tamat sekolah teman saya ini baru mau mengajak saya ke gerejanya. Saya mulai belajar mengenal siapa itu Yesus, kenapa dia dipanggil sebagai Tuhan, apa pekerjaanNya, dll. Agustus 2003 saya masuk gereja, 11 April 2004 saya menyerahkan diri untuk dibaptis. Pelan-pelan Tuhan mengubahkan hidup saya, kehidupan manusia lama saya yang tidak membanggakan dan menjengkelkan orang lain secara perlahan mulai hilang, sehingga menjadi kesaksian bagi orang di sekitar saya termasuk keluarga saya bahwa Yesus bisa mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik.
Saya mulai menggumulkan panggilan untuk menjadi hamba Tuhan setelah mengikuti KKR remaja dengan tema “Generasi Muda Bagi Kristus”, pembicara pada KKR itu adalah Pdt. Agus Gunawan, Rektor STT Bandung saat ini. Saya mulai berpikir untuk mendalami firman Tuhan dan mengajarkan firman Tuhan. Saya menunda panggilan saya untuk sekolah Teologi selama 6 tahun, 3 tahun pertama ditunda karena tidak mendapatkan dukungan dari keluarga,

Belajar dari Mark Zuckerberg


Saat ini sepertinya anak-anak muda sedang tergila-gila dengan K-POP. Ditelevisi, di radio setiap hari ada saja lagu K-POP yang disiarkan. Sampai muncullah julukan yang terkenal dengan ‘demam K-POP’. Dari sana muncul pula idola-idola baru dari negara Korea. Ada SUJU (super junior) , 2 PM, SNSD dan banyak lagi lainnya. Tapi saat ini saya tidak akan membicarakan mengenai mereka dalam artikel ini. Saya akan membicarakan mengenai seorang idola saya, Mark Zuckerberg. Pernahkah kalian mendengar nama ini?
Mark Zuckerberg bernama lengkap Mark Elliot Zuckerberg (lahir 14 Mei 1984). Dia adalah seorang programer komputer. Ia dikenal karena situs jejaring Facebook yang diciptakannya. Berkat ciptaannya itu ia akhirnya saat ini menjabat sebagai pejabat eksekutif dan bahkan sekaligus presidennya dari perusahaan Facebook inc. Facebook didirikan sebagai perusahaan swasta pada tahun 2004 oleh Mark Zuckerberg dan teman sekelasnya Dustin Moskovitz, Eduardo Saverin, dan Chris Hughes. Ketika Mark Zuckerberg masih menjadi mahasiswa di Universitas Harvard, ia hanya berpikir sederhana bagaimana caranya supaya ia bisa berkomunikasi dengan teman-temannya. Dikarenakan kondisi gedung kampusnya sangat besar dan jarak antar kelas cukup jauh. Inilah ide utama Facebook, ia lalu membuat suatu sistem jejaring sosial untuk kelasnya. Tetapi setelah ia membuat sistem tersebut, ternyata semakin banyak saja orang yang tergabung didalamnya. Sistem itu lama-kelamaan telah menjaring universitas terdekat dari tempatnya kuliah. Dari situasi ini, Mark Zuckerberg berinisiatif untuk mengembangkan sistem jejaring tersebut dan memberikan nama Facebook. Mark Zuckerberg dan teman-temannya lalu menyewa tempat di Palo Alto, California sebagai tempat untuk mengembangkan Facebook.

Sabtu, 10 Januari 2009

Falsafah Kehidupan dan Si Bolang


Alangkah senangnya bila kita bisa hidup seperti teman – teman kita yang ditayangkan di acara Si Bolang. Melihat mereka hidup setiap hari seperti hari Minggu, mau makan apa tinggal minta dari alam. Yang mereka tahu mungkin hanya melewati pagi, siang dan malam.

Tidak seperti kita yang hidup di tengah kota, yang punya peradaban berbeda lagi. Tujuannya sama, menjalani hidup juga, namun untuk hidup kita perlu makan, untuk makan kita tidak bisa seperti teman-teman kita si bolang, tinggal ambil dari alam gratis, karena murni dari alam, belum dikenakan sentuhan manusia, seperti buah yang langsung dipetik, ikan, udang, kepiting yang bisa diambil langsung dari laut. kita yang hidup di kota diharuskan membeli, untuk beli kita harus bayar, mengapa harus bayar? Karena yang mau kita beli adalah hasil karya orang lain, yang kita bayar itu jasanya, beli sayur di pasar, yang kita bayar itu jasa angkut dan ongkos bawa nya dari desa sampai kehadapan kita di tengah pasar kota. Beli televisi, yang kita bayar itu jasa merakitnya, sehingga menjadi sebuah televisi. Dan masih banyak lagi. 


Untuk bisa bayar kita harus punya uang, untuk punya uang kita harus bekerja, mengapa harus bekerja? Supaya kita punya hak untuk memiliki sejumlah uang setelah kita memberikan jasa atau kemampuan kita, itulah namanya salary/gaji. Oleh sebab itulah manusia sepakat untuk menetapkan yang namanya Hari. Ada tujuh hari dari Senin sampai Minggu, Senin – Sabtu disepakati adalah waktu untuk bekerja, Minggu adalah waktu istirahat, karena manusia juga bisa capek, jadi harus ada satu hari dimana mereka bisa beristirahat. Padahal, yang namanya hari Senin, hari Rabu, itu tidak ada bedanya, kita tetap akan lalui hari yang sama, ketemu pagi, siang, lalu malam lagi. Jadi kalo dipikir-pikir sebetulnya manusia yang merepotkan dirinya sendiri. Memusingkan dirinya dengan hitung-hitungan pajak, pembukuan akuntansi perusahaan yang rumit, perjanjian inilah, kontrak itulah bagi mereka yang berkantor.
 
Padahal tujuannya sama, untuk mendapatkan uang, uangnya digunakan untuk kelangsungan hidup. Apa bedanya dengan teman –teman kita seperti yang ada di acara si bolang? Sama toh, namun mereka menjalaninya dengan tidak ada beban, happy always, memang mungkin ada sebagian kita akan menganggap mereka gaptek, ketinggalan teknologi atau informasi, tidak bisa menikmati bagaimana asiknya chatting, facebook, friendster dll. Namun di kalangan mereka itu bukanlah suatu hal yang penting, karena standar mereka bukan itu, karena memang aplikasi facebook tidak dubutuhkan disana, Toh mereka tinggal tidak berjauhan. Kita menggunakan facebook atau aplikasi internet lainnya karena memang diharuskan ada supaya kita bisa berkomunikasi dengan orang – orang yang berada jauh dari kita. 

Justru kita yang tinggal di kota sekali lagi diharuskan untuk menyesuaikan diri denagn standar kehidupan di kota, mesti bisa internet, mesti baca koran, karena kalau tidak kita lakukan , kita secara pelan2 akan hancur kalau tidak bisa bersaing cepat dan pintar dengan yang lain yang juga melakukan hal yang sama. 


Jadi sebetulnya apa inti dari kehidupan ini? Apa untuk makan saja, karena kita cari uang untuk makan demi kelangsungan hidup, teman – teman pedalaman kita seperti si bolang juga demikian, mencari makan untuk hidup tapi dari alam. Betul sekali, kita hidup untuk makan, itulah standar kehidupan, harus dan pasti tercapai bagaimanapun caranya, karena kalu kita tidak makan, kita pasti mati. Namun supaya hidup ini punya arti, bisakah sembari kita hidup untuk makan, kita juga melakukan hal yang baik kepada sesama, sadar akan Pencipta kita yang diatas karena kita ini hasil ciptaannya, berusaha menyenangkan Beliau dengan melakukan hal-hal yang baik yang sudah distandarkan Beliau. Itulah standar kualitas hidup. 

Dengan begini, hidup kita tidak akan terasa hampa. Kita akan merasa tidak sama dengan mereka yang hidupnya hanya sama dengan standar hidup kita, bukan standar kualitas hidup kita. Ingat, seperti yang Bp. Mario Teguh katakan, bahwa “Kita adalah hasil dari respon/keputusan kita terhadap kejadian/peristiwa”. Jadi Keputusan kita sangat menentukan bagaimana kita menjalani hidup. Itu…  

Johan Setiawan